Kunci bahagia dan diberkati : Mengandalkan Tuhan dan bukan mengandalkan manusia

Yeremia 17 mengatakan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan. Sebaliknya Yeremia mengatakan bahwa diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Kutuk yang Yeremia katakan bila orang mengandalkan manusia adalah ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di negeri angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduku. Sebaliknya berkat yang Yeremia katakan bila orang mengadalkan Tuhan mirip dengan kalimat di dalam Mazmur 1 bagi mereka yang merenungkan Firman Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.  

Di dalam kehidupan ini kita memerlukan satu sosok pribadi untuk kita bergantung. Mengapa kita memerlukan sosok pribadi untuk bergantung karena kita manusia lemah dan terbatas. Ini adalah natur kita. Sosok yang kita bergantung itu tentunya harus sosok yang kuat. Sosok itu mungkin bisa orang tua, pasangan, ataupun orang yang dianggap dan dikagumi kita. Ini adalah sifat kebergantungan. Dan mengapa manusia mempunyai sifat ini ? Yaitu karena manusia diciptakan untuk bergantung kepada Penciptanya. Manusia adalah mahluk sosial relasional yang harus bergantung kepada Tuhan Allah. Semua ini adalah desain yang sudah Tuhan tetapkan bagi manusia sebagai gambar dan rupaNya.

Ketika kita menggantungkan hidup kita pada satu pribadi maka sebenarnya pilihannya hanya dua yaitu bergantung kepada Tuhan Allah atau bergantung kepada berhala. Dan ketika kita menggantungkan diri kita sepenuhnya pada satu pribadi maka sebenarnya pribadi itu yang sedang kita sembah. Ini juga adalah satu karakteristik manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang mempunyai sifat agama. Manusia diciptakan untuk menyembah. Dan pilihannya hanya dua yaitu menyembah Tuhan Allah atau tidak menyembahNya alias menyembah berhala atau diri atau setan.

Ketika manusia menyembah Tuhan Allah dan mengandalkan Dia maka manusia akan bertumbuh dan berbuah dan hidupnya ada di dalam hawa kehidupan. Tetapi ketika manusia menyembah berhala dan mengandalkan berhala maka manusia akan terkutuk dan malang hidupnya. Hawa kematian akan mengejar dia. Mengapa demikian ? Karena dengan menyembah berhala sebagai sesuatu yang dipercaya dapat memberikan berkat dan kutuk maka manusia hidup dalam kebohongan dan tidak hidup di dalam kasih. Manusia yang menyembah berhala hidup di dalam kesombongan dan juga sekaligus hidup di dalam ketakutan. Mereka hidup di dalam kedagingan yang bertentangan dengan roh. Dan dengan demikian sesuai dengan Firman Tuhan maka upah dosa ialah maut. Dengan berdosa maka manusia adalah hamba dosa dan dosa ini membawa kepada hawa kematian.

Bukankah banyak orang begitu kuatir orang lain menilai dirinya ? Bukankah banyak orang takut kepada manusia lebih daripada takut kepada Allah ? Bukankah banyak orang selalu ingin dipandang baik oleh orang lain ? Mengapa ? Sebab mereka lebih mementingkan apa yang dipikirkan manusia daripada apa yang dipandang Tuhan. Apa yang dipandang manusia itulah yang dibenci Tuhan Allah.

Akibat dari memandang manusia begitu tinggi dan tidak mengindahkan Tuhan Allah mengakibatkan rohani menjadi mati dan psikologis manusia pun hidup di dalam emosi-emosi yang mematikan : kemarahan, ketakutan, kekuatiran, kebencian, hawa nafsu, dsb.

Tetapi bersyukur kepada Tuhan Yesus bahwa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini. Dan Tuhan Yesus mengatakan tentang diriNya bahwa Dia datang supaya orang memperoleh hidup bahkan hidup di dalam kelimpahan. Tuhan Yesus datang ke dunia ini supaya orang yang percaya kepadaNya boleh dilepaskan dari berhala-berhala untuk beribadah kepada Allah yang hidup. Tuhan Yesus datang supaya orang yang menerimaNya diberkati dan bahagia di dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Dan Tuhan Yesus dengan kematianNya memampukan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan Allah.

Marilah kita sebagai orang percaya makin menyadari bahwa kita harus hidup mengandalkan Tuhan dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kiranya renungan singkat ini boleh menjadi berkat.

Jeffrey Lim
17-2-2012

Comments: